Jatim Mbois . 19/06/2026, 20:45 WIB
Penulis : Rizal Husen | Editor : Rizal Husen
"Sesar Kendeng adalah sesar dengan pergerakan lambat, sekitar 5 milimeter per tahun dan memiliki periode ulang gempa yang cukup panjang. Karena itu, gempa besar merusak atau destructive earthquake akibat sesar ini sebagian besar tercatat dalam sejarah masa lalu," terangnya.
Berdasarkan katalog gempa historis, kerusakan parah yang pernah ditimbulkan oleh sesar ini terjadi pada era kolonial, seperti gempa Mojokerto dan Ploso Jombang (1836-1837), Madiun (1862 dan 1915), serta Surabaya (1867).
Sementara itu, untuk pemantauan terkini, Ricko memastikan bahwa kondisi sesar saat ini masih dalam kategori aman dan normal.
"Dalam beberapa tahun terakhir, kami mendeteksi adanya aktivitas seismik berupa gempa-gempa dangkal berskala kecil hingga menengah dengan Magnitudo 4 sampai 5 di sepanjang jalur sesar ini. Ini adalah proses pelepasan energi yang wajar," tandasnya.
Untuk meningkatkan kewaspadaan, masyarakat perlu mengetahui bahwa Zona Sesar Kendeng bukanlah satu garis patahan tunggal, melainkan sistem yang kompleks.
Sesar ini melintang sepanjang kurang lebih 300 kilometer di bagian Utara Pulau Jawa, membentang dari wilayah selatan Semarang (Jawa Tengah) hingga menembus wilayah Jawa Timur.
Berdasarkan zonasi mikrotremor dan data geologi, sesar ini terbagi menjadi 6 segmen utama yang memiliki karakteristik dan tingkat ancaman berbeda:
Secara administratif, jalur rawan ini melintasi berbagai wilayah padat penduduk, meliputi Salatiga, Grobogan, Blora, Madiun, Nganjuk, Jombang, Bojonegoro, Lamongan, Mojokerto, Sidoarjo, hingga Kota Surabaya. Warga yang bermukim di area ini sangat disarankan untuk membangun rumah tahan gempa.
BMKG dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mengimbau masyarakat untuk tidak mudah termakan oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan yang beredar di media sosial.
Alih-alih menyebarkan ketakutan, energi publik seharusnya dialihkan untuk menyiapkan tas siaga bencana, memetakan jalur evakuasi di lingkungan masing-masing, dan memastikan struktur bangunan rumah telah memenuhi standar ketahanan gempa.
"Karena sekali lagi hingga kini gempa belum bisa diprediksi secara tepat kapan, di mana, dan berapa magnitudonya kalau gempabumi tersebut belum terjadi," tutup Ricko mengingatkan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media