Arek Jatim . 11/06/2026, 17:31 WIB
Penulis : Rizal Husen | Editor : Rizal Husen
Skandal ini pertama kali terungkap setelah akun advokasi kemanusiaan @viralforjusticecom membeberkan urutan kejadian yang ditulis langsung oleh tangan korban.
Berdasarkan bukti asli tersebut, pelaku menggunakan metode kejahatan yang terencana dan terstruktur yang dikenal dengan istilah child grooming, yaitu taktik manipulasi psikologis untuk mendekati anak secara perlahan, membangun ikatan emosional palsu, sebelum akhirnya mengeksploitasi mereka.
Cara kerja yang digunakan pelaku terbilang sangat sistematis, melalui tahapan sebagai berikut:
Tindakan kekerasan seksual ini dilaporkan terus berulang di berbagai tempat lain, termasuk di dalam mobil pribadi pelaku setelah jam latihan selesai. Puncaknya, pelaku diduga nekat membawa korban ke sebuah tempat penginapan di wilayah Surabaya pada tanggal 25 Maret 2026.
Tidak hanya berhenti pada kontak fisik, pelaku juga melakukan eksploitasi melalui media digital secara agresif dengan mengirim pesan ancaman melalui pesan singkat. Tujuannya adalah untuk memaksa korban mengirimkan foto atau materi pribadi yang bersifat intim.
Praktik manipulasi psikologis yang dilakukan secara terencana oleh orang terdekat ini ternyata meninggalkan dampak kerusakan mental yang jauh lebih parah dibandingkan kekerasan fisik biasa.
Pola tindakan ini membuat anak menjadi bingung membedakan batasan moral, sehingga korban sering kali merasa bingung, merasa bersalah, dan menganggap peristiwa traumatis tersebut sebagai kesalahan yang mereka buat sendiri.
Secara ilmiah, dampak buruk dari tindakan manipulasi ini pernah dibahas secara mendalam dalam sebuah penelitian analisis berskala besar yang dilakukan oleh sosiolog sekaligus pakar perlindungan anak dunia, David Finkelhor pada tahun 2014 di Laboratorium Penelitian Korban Kejahatan, bersama peneliti terkemuka lainnya yaitu Michael Seto dan Ethel Quayle.
Berdasarkan hasil penelitian terhadap 20.000 kasus anak-anak, korban yang terjebak dalam lingkaran manipulasi emosional jangka panjang memiliki risiko menderita gangguan stres pascatrauma atau Post-Traumatic Stress Disorder hingga tiga kali lipat.
Ini lebih tinggi dibandingkan anak-anak yang mengalami pelecehan seksual secara tiba-tiba tanpa proses pendekatan terlebih dahulu. Secara medis, trauma mendalam ini dapat merusak perkembangan otak, menghambat kecerdasan emosional, serta mengganggu kemampuan berinteraksi sosial anak hingga mereka tumbuh dewasa.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media