Jumat, 05 Juni 2026
--°C --
-- · --
Kampung Rek

Suhu Malang Raya Tembus 17 Derajat, Ini Penyebabnya Menurut BMKG

RH
Tim Redaksi
04/06/2026, 15:50 WIB
Bagikan
Saluran WhatsApp Resmi jatim.fin.co.id
Dapatkan berita terupdate langsung di WhatsApp
Follow
Suhu Malang Raya Tembus 17 Derajat, Ini Penyebabnya Menurut BMKG

Suhu Malang Raya Tembus 17 Derajat, Ini Penyebabnya Menurut BMKG

Finjatim - Warga Malang Raya belakangan ini merasakan suhu udara pada malam hingga pagi hari yang terasa sangat dingin dan menusuk tulang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Timur akhirnya memberikan penjelasan dan mengonfirmasi bahwa wilayah Malang saat ini sedang dilanda fenomena alam musiman yang dikenal dengan istilah Bediding.

Kondisi dingin yang ekstrem ini dipicu oleh aktifnya pergerakan Angin Monsun Timuran yang berembus dari benua Australia menuju benua Asia. Angin tersebut membawa massa udara yang bersifat sangat kering dan dingin, melewati wilayah Jawa Timur termasuk kawasan dataran tinggi Malang Raya.

Fenomena ini diprediksi akan terus menyelimuti wilayah Malang mulai bulan Juni hingga mencapai puncaknya pada bulan September 2026 mendatang, bertepatan dengan periode musim kemarau tahun ini.

"Bediding merupakan kondisi dengan suhu lingkungan lebih dingin dibandingkan keadaan normalnya. Ini merupakan siklus musiman dan ditandai dengan aktifnya angin monsun timuran yang sifatnya kering dan dingin," ungkap Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Linda Fitrotul, pada Kamis, 4 Juni 2026.

Advertisement

Selain pengaruh pergerakan angin dari daratan Australia, BMKG menjelaskan penurunan suhu udara di Malang juga disebabkan oleh karakteristik langit pada musim kemarau yang cenderung bersih dari awan. Pada siang hari, permukaan bumi menyerap panas matahari secara maksimal.

Namun, karena tidak ada tutupan awan, seluruh energi panas tersebut langsung dipantulkan kembali dan hilang ke luar angkasa pada malam hari tanpa ada yang menahannya.

Minimnya curah hujan di pertengahan tahun 2026 ini juga membuat tingkat kelembapan udara berada pada angka yang sangat rendah. Akibatnya, pelepasan energi panas dari bumi berlangsung sangat cepat, yang memicu penurunan suhu udara secara drastis menjelang dini hari.

Dini Hari Tembus 17 Derajat Celsius

Berdasarkan data pemantauan langsung dari pos pengamatan BMKG Karangploso, Kabupaten Malang, perubahan suhu udara di Malang Raya selama masa Bediding ini menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok antara siang dan malam. Waktu dengan suhu paling dingin tercatat terjadi pada sepertiga malam hingga menjelang waktu subuh.

  • Dini Hari hingga Subuh (03.00 - 06.00 WIB): Suhu turun drastis mencapai angka 17 hingga 18 derajat Celsius.
  • Malam Hari: Rata-rata suhu udara berkisar di angka 20 sampai 21 derajat Celsius.
  • Pagi Hari (Sekitar 07.30 WIB): Suhu perlahan naik berada di kisaran 22 hingga 25 derajat Celsius.
  • Siang Hari (Pukul 12.00 - 14.00 WIB): Cuaca cenderung terik dengan suhu berkisar antara 27 hingga 29 derajat Celsius.

Baca Juga

Perbedaan suhu yang sangat jauh ini sering membuat kondisi tubuh masyarakat terkejut dan mengalami penurunan daya tahan tubuh jika tidak mengonsumsi vitamin atau mengenakan pakaian yang cukup hangat.

Fenomena Bediding tidak hanya membuat warga enggan beraktivitas di pagi hari. Tetapi juga membawa dampak serius yang wajib diwaspadai oleh para pelaku sektor pertanian di Malang Raya.

Untuk wilayah dataran tinggi seperti kawasan Bromo, Semeru, serta pegunungan di Kota Batu dan Pujon, ancaman munculnya embun beku atau yang sering disebut embun upas memiliki risiko yang sangat tinggi.

Advertisement

Bagi para petani, embun beku ini bersifat merusak karena dapat membekukan jaringan tanaman, yang memicu kerusakan fatal pada tanaman sayuran, bunga hias, hingga komoditas pertanian lainnya, dan berpotensi menyebabkan kegagalan panen.

Selain sektor pertanian, bidang peternakan juga turut merasakan dampaknya. Suhu dingin ekstrem yang menyengat pada malam hari berisiko besar membuat hewan ternak seperti sapi perah dan ayam mengalami tekanan akibat lingkungan.

Bagikan Artikel
Rizal Husen
Rizal Husen
Penulis
FIN Biro Jawa Timur