Jatim Mbois . 02/06/2026, 11:05 WIB
Penulis : Rizal Husen | Editor : Rizal Husen
Finjatim - Proses pemulangan tamu Allah di Jawa Timur kini bertransformasi menjadi jauh lebih praktis dan modern. Memanfaatkan teknologi terintegrasi bernama seamless corridor, sebanyak 378 jamaah haji gelombang kloter pertama resmi mendarat dan memasuki kompleks Asrama Haji Sukolilo Surabaya pada Senin malam.
Inovasi sistem koridor tanpa jeda ini memangkas proses birokrasi pemeriksaan keimigrasian dan pengecekan kesehatan menjadi jauh lebih singkat. Jamaah kini tidak perlu lagi mengantre panjang atau membongkar barang bawaan hanya untuk menyerahkan paspor fisik demi mendapatkan stempel kedatangan dari negara asal.
Penerapan skema efisiensi operasional ini menempatkan Provinsi Jawa Timur sebagai wilayah percontohan strategis kedua di Indonesia yang sukses mengadopsi sistem digital keimigrasian cepat, setelah sebelumnya diterapkan di DKI Jakarta.
Langkah terobosan ini sengaja didesain untuk menjaga kondisi fisik para jamaah haji — terutama kelompok lanjut usia — agar tidak kelelahan setibanya di tanah air, setelah menempuh perjalanan udara belasan jam dari Jeddah.
Meskipun proses kepulangan massal kloter perdana yang berasal dari Kabupaten Probolinggo ini berjalan lancar, suasana haru dan doa bersama tetap menyelimuti prosesi penyambutan. Dari total daftar keberangkatan awal sebanyak 380 orang (termasuk petugas pendamping), tercatat ada dua jamaah yang tidak pulang bersama rombongan utama.
Satu orang jamaah dilaporkan meninggal dunia di Tanah Suci sebelum pelaksanaan puncak ibadah haji dimulai, sehingga status keberangkatannya otomatis dibatalkan secara sistem.
Sementara itu, satu jamaah haji lainnya bernama Abdul Djalal terpaksa tertinggal di Arab Saudi karena mengalami masalah kesehatan darurat. Saat ini, yang bersangkutan tengah mendapatkan perawatan intensif dari tim medis di Rumah Sakit Al-Noor, Makkah.
Pihak otoritas penerbangan dan panitia memastikan akan memfasilitasi kepulangan Abdul Djalal ke Indonesia dengan menyertakannya pada daftar penerbangan kloter berikutnya, dengan syarat kondisi fisiknya telah dinyatakan stabil dan mendapat rekomendasi layak terbang dari dokter spesialis setempat.
“Insya Allah nanti kami melihat perkembangannya. Kalau sudah sehat akan diikutkan pada kloter-kloter berikutnya. Kloter pertama ini berangkat 380 orang. Satu jamaah wafat sebelum puncak haji sehingga keberangkatannya dibatalkan dan mendapatkan seluruh haknya, baik asuransi maupun sertifikat. Satu jamaah lagi sakit dan masih dirawat,” urai Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Surabaya, Mohammad As’adul Anam, saat memimpin langsung prosesi penyambutan di Surabaya.
Mengenai aspek perlindungan hukum dan finansial bagi para jamaah, PPIH menegaskan adanya komitmen akuntabilitas yang tinggi.
Berdasarkan data terbaru yang dihimpun secara nasional, hingga saat ini tercatat ada sebanyak 34 jamaah haji asal Indonesia yang dilaporkan meninggal dunia selama menjalankan rangkaian ibadah di Tanah Suci.
Pemerintah menjamin seluruh hak administratif dan pemenuhan asuransi bagi jamaah yang meninggal dunia akan diselesaikan secara cepat tanpa birokrasi yang berbelit-belit.
Tim pengelola keuangan haji memastikan bahwa dana santunan kematian senilai total Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) reguler akan langsung ditransfer ke rekening ahli waris yang sah.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media