Kampung Rek . 01/06/2026, 12:10 WIB
Penulis : Rizal Husen | Editor : Rizal Husen
Finjatim - Eskalasi aktivitas gunung berapi mengalami erupsi besar dengan memuntahkan kolom abu vulkanik setinggi 1 kilometer (1.000 meter) langsung di atas puncak kawah pada Sabtu, 31 Mei 2026 petang.
Catatan dari Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Semeru mengonfirmasi bahwa amukan gunung setinggi 3.676 mdpl ini terjadi secara beruntun sebanyak tiga kali dalam kurun waktu satu hari penuh.
Dua letusan awal terjadi pada dini hari dan subuh dengan visual yang tertutup kabut, sebelum akhirnya letusan pamungkas yang sangat masif menjulang setinggi 4.676 meter di atas permukaan laut dan termonitor dengan jelas pada pukul 16.57 WIB.
Berdasarkan pembacaan instrumen seismograf milik petugas pos pantau, aktivitas erupsi terbaru ini terekam memicu getaran gempa letusan dengan amplitudo maksimum mencapai angka 22 mm.
Durasi kegempaan atau pancaran energi kinetik dari perut bumi tersebut berlangsung cukup lama, yakni selama 171 detik, dengan embusan angin yang menyeret material abu kelabu tebal condong ke sektor barat.
Otoritas Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan bahwa status Gunung Semeru saat ini tertahan kokoh pada Status Level III (Siaga).
Atas dasar status bahaya tersebut, petugas mengeluarkan rekomendasi mutlak berupa sterilisasi total bagi seluruh aktivitas manusia di sektor tenggara sepanjang jalur Besuk Kobokan, terhitung sejauh 13 kilometer dari pusat erupsi.
"Terjadi erupsi Gunung Semeru pada pukul 16.57 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 1 km di atas puncak. Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal bergerak ke arah barat. Saat ini aktivitas vulkanik berada pada Status Level III (Siaga) dengan rekomendasi masyarakat tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan," kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Mukdas Sofian, dalam keterangannya.
Masyarakat yang tinggal di luar radius aman juga diimbau untuk tidak melakukan aktivitas ekonomi maupun penambangan pasir dalam jarak 500 meter dari sempadan (tepi) sungai di sepanjang aliran Besuk Kobokan.
Langkah preventif ini wajib dilakukan guna mengantisipasi perluasan awan panas guguran (APG) serta terjangan banjir lahar dingin susulan yang berpotensi melesat hingga jarak 17 kilometer dari puncak.
Selain itu, radius 5 kilometer dari kawah utama harus benar-benar bersih dari aktivitas manusia karena sangat rawan terhadap ancaman fatal berupa lontaran batu pijar bersuhu tinggi.
Risiko bencana sekunder berupa penumpukan material lahar juga wajib diwaspadai pada empat daerah aliran sungai (DAS) utama yang berhulu langsung di puncak Semeru, meliputi:
• Besuk Kobokan
• Besuk Bang
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media