Jatim Mbois . 14/05/2026, 19:18 WIB
Penulis : Rizal Husen | Editor : Rizal Husen
Finjatim - Kabar mengejutkan datang dari sektor kesehatan Jawa Timur. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim, dr. Erwin Ashta Triyono, secara resmi mengonfirmasi Hantavirus telah terdeteksi di wilayah Jawa Timur pada awal tahun 2026.
Penyakit yang ditularkan melalui tikus ini sempat menjangkiti seorang pasien dewasa sebelum akhirnya dinyatakan sembuh total setelah menjalani perawatan intensif.
Meskipun saat ini laporan kasus baru menunjukkan angka nol, masyarakat diminta tetap waspada karena virus ini memiliki kemiripan gejala dengan Leptospirosis yang kerap muncul saat musim hujan.
Penemuan ini menjadi bagian dari penguatan pengawasan nasional (surveillance) yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan RI.
Berdasarkan data terbaru per Mei 2026, kasus pertama ini teridentifikasi pada bulan Januari lalu.
Pasien yang dirawat di RSUD dr. Soetomo Surabaya awalnya menunjukkan gejala demam tinggi dan perubahan warna kulit menjadi kuning (jaundice).
Kondisi klinis ini sempat memicu kecurigaan adanya infeksi Leptospira (kencing tikus).
"Karena adanya gejala demam dan kuning yang signifikan, pihak Kemenkes mendorong untuk dilakukan pemeriksaan spesifik Hantavirus. Hasilnya ternyata positif. Beruntung, penanganan cepat membuat pasien kini sudah pulih dan beraktivitas kembali," ungkap dr. Erwin.
Hantavirus dikategorikan sebagai infeksi zoonosis, artinya virus ini berpindah dari hewan—khususnya tikus—kepada manusia.
Hingga saat ini, dr. Erwin menegaskan belum ada bukti kuat adanya penularan antarmanusia (human-to-human transmission) di wilayah Jawa Timur, namun kontak dengan produk yang terkontaminasi tikus menjadi risiko tertinggi.
Masyarakat dihimbau untuk menjaga kebersihan lingkungan secara ekstra. Partikel virus dapat terhirup atau masuk ke tubuh melalui kontak langsung dengan kotoran, urine, maupun air liur tikus yang mencemari peralatan makan atau lingkungan rumah.
Mengingat urgensi ancaman virus baru, prosedur diagnosa dilakukan secara sangat ketat. Hantavirus hanya dapat dipastikan melalui pemeriksaan laboratorium khusus yang melibatkan uji PCR, tes darah, dan urine.
"Seluruh sampel pemeriksaan dikirim dan dikelola langsung oleh Kementerian Kesehatan di pusat. Ini menyangkut keamanan kesehatan nasional, sehingga setiap temuan harus terpantau secara real-time melalui sistem surveilans nasional," papar dr. Erwin.
"Kuncinya adalah kebersihan. Jangan sampai kita bersentuhan atau mengonsumsi produk yang sudah terkontaminasi oleh tikus. Meskipun kasus di Januari sudah sembuh, kewaspadaan jangan sampai kendor," pungkasnya.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media