HEBOH DI BLITAR! Belasan Mahasiswi UNU Ngaku Jadi Korban Pelecehan Dosen, Modusnya Bimbingan Skripsi
HEBOH DI BLITAR! Belasan Mahasiswi UNU Ngaku Jadi Korban Pelecehan Dosen, Modusnya Bimbingan Skripsi
Finjatim - Kasus dugaan pelecehan seksual mengguncang dunia pendidikan tinggi di Jawa Timur. Sejumlah mahasiswi Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar mengaku menjadi korban tindakan tidak pantas yang diduga dilakukan oleh seorang oknum dosen.
Kasus ini langsung menjadi perhatian publik setelah beberapa mahasiswa mulai berani berbicara dan meminta pendampingan.
Dugaan pelecehan disebut terjadi tidak hanya di ruang kelas, tetapi juga dalam aktivitas akademik lain seperti bimbingan skripsi.
Yang mengejutkan, jumlah korban diduga lebih dari 10 orang berdasarkan investigasi internal mahasiswa.
Pihak kampus pun akhirnya mengambil langkah tegas dengan menonaktifkan sementara dosen terlapor sambil menunggu proses penyelidikan selesai.
“Kami sudah menonaktifkan seluruh aktivitas terlapor yang berhubungan dengan mahasiswa sampai proses penyelidikan selesai,” ujar Wakil Rektor III UNU Blitar.
Korban Mengaku Alami Pelecehan Verbal dan Nonverbal
Salah satu mahasiswi yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku pernah mengalami perlakuan tidak nyaman saat berada di kelas.
Ia menyebut awalnya mengira sentuhan dari oknum dosen tersebut tidak disengaja. Namun tindakan serupa disebut terjadi berulang kali.
“Awalnya saya pikir tidak sengaja, tapi ternyata terjadi beberapa kali dan bikin risih,” ungkap salah satu korban.
Selain kontak fisik, korban juga menyebut adanya dugaan pelecehan verbal berupa ucapan tidak pantas terhadap mahasiswi lain.
Menurut pengakuan mahasiswa, perilaku tersebut sudah cukup lama menjadi pembicaraan di lingkungan kampus, namun sebelumnya belum ada tindak lanjut serius.
Ketua PMII Komisariat UNU Blitar, Ahmad Kafiy, mengungkapkan pihaknya menerima laporan pendampingan dari sejumlah korban.
Menurutnya, setidaknya ada lima mahasiswi yang telah meminta bantuan secara langsung.
Namun berdasarkan investigasi internal mahasiswa, jumlah korban diduga lebih banyak.